Mengambil karya orang lain,sama saja menipu diri sendiri

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Baju Pantun " Daun Sirih " Production "

Baju Pantun " Daun Sirih " Production "
harga Rp.110 ribu ( sudah termasuk ongkos kirim ) boleh pesan satu baju . DO 3 hari sampai ke alamat pemesan. jenis bahan cotton combed 30S kain cukup tebal. ada lengan pendek dan ada lengan panjang, all size ( semua ukuran ada ) , tersedia warna dasar baju putih, hitam dan kuning. cara pemesanan bisa melalui inbox Ari Ryan Pasalimapuluh atau kontak ke nomer 081275186437

Antologi puisi REQUEIM BUAT GAZA

Antologi puisi  REQUEIM BUAT GAZA
Telah terbit Antologi Puisi " REQUIEM BUAT GAZA " karya Gempita Biostory Grup ( Media Jejaring Sosial / Fb ) Tahun 2013. Judul : Antologi REQUEIM BUAT GAZA 31 PENYAIR - 182 Halaman - Pracetak : KOr@nMEdan - Cetak : GEMPITA BIOSTORY INDI - Edisi Tahun 2013. Bila rekan-rekan ingin berpastisipasi dan sekaligus memilikinya, silahkan menghubungi kami di inbox. Terimakasih 30 Maret 2013

BUKU ANTOLOGI PUISI CARTA FARFALLA penerbit ; TUAS MEDIA

BUKU ANTOLOGI PUISI CARTA FARFALLA penerbit ; TUAS MEDIA
CARTA FARFALLA BLUE (Jejak Pelangi Aksara, 2012) Penerbit ; Tuas Media Banjarmasin Tebal ; 155 halaman ISBN : 976-602-7514-12-6 Editor ; Pidrian Syaikhal harga ; Rp. 25.000,- (belum termasuk ongkir)

Antologi puisi " Bukittinggi,Ambo di siko ( 39 Penyair Nusantara )

Antologi puisi " Bukittinggi,Ambo di siko ( 39 Penyair Nusantara )
Antologi puisi " Bukittinggi,Ambo di siko ( 39 Penyair Nusantara ) Katalog Dalam terbitan ( KDT ) Bukittinggi,Ambo di siko Pare, Penerbit FAM Publishing xvii+ 154 Halaman ISBN: 978-602-17404-7-7 Cetakan 1,Februari 2013 Penulis : 39 penyair nusantara Harga Rp 41.000 ( belum termasuk ongkos kirim) cara pemesanan,bisa melalui inbox fb saya atau melalui penerbit FAM,call centre : 081259821511

DESA RANGKAT

DESA RANGKAT
DESA RANGKAT menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda, datang, bergabung dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)

Blogger templates

MAP 2D


Ariyanto. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label puisi kalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi kalah. Tampilkan semua postingan

Sepucuk Surat Titian Kata

Sabtu, 10 September 2011 0 komentar

Titian kata bernaung kucoba untuk memahami
segelintir suara selalu pahami diri
begitu sepi
begitu menanti.

Tersiar hati rembulan kenangan indah
bersama pemandu cerita menyentuh
meresap duka
membuka mata

Sekeliling mata senyum terbawa
terbawa pemberani berdakwa
melayang jiwa
melayang tawa.

Sepucuk surat titian kata
untuk rantau kini terbaca.

Uda...!!!.
Kata ibu bahasa asli
menyentuh gendang telinga rindu diri
jauh menyuruh ingin pulang asal negeri.

Adiak...!!!
Kata ibu bahasa asli
keluar berat menyadari
sabar balas akan pulang nanti.

Menari umpama untuk rindu
rantau jauh hati terasa menunggu
menunggu hari izin bersama kekasih dirindu.

Mata jauh memandang
menembus atap rumah tua
gelap sunyi.
Sayup terdengar suara telinga
membawa sinyal lapor otak
memahami berkerja pikiran mengenali
tangisan itu otak berbicara.

Mata mencoba membuka lihat
tangisan siapa itu ?.
Terlalu silau terasa tak nampak
anak kecil itu mulai fokus mata
Anak siapa ?.Itu aku.

Kamar apa ini ?.Berserakan
kaca pecah bertaburan
tempat tidur porak poranda
lemari bekas hantaman hancur
tangan darah terasa pekat mata terlihat
mata sekeliling tergambar ruang bertuba.

Darah luka anak.
Darah air matak Anak.
Tubuh lebam anak.
Sisa siksa baru,membekas
Itukah Aku ?.Iya.

Pedih mata sakit tak tahan pandang
gelap mulai gelap takterlihat
kembali semua keruangan
ruangan lain tempat kini
terjaga basah peluh badan.
Mimpi atau itu aku dulu?.Aku gelisah.
Gelisah pilu untuk mimpi nyata aku dulu.

Pekanbaru 19072011

Abu berterbangan indah
menempel jauh kulit pejalan siang
tak terhiraukan sudah
biasa bagi anak tak tenang.

Koran tangan peluh untuk makan
berdiri tegar samping berhala pengatur.

Merah :
Harapan membuka untuk hidup
mendekat kaca pembawa pembeli
berlagak bersuara
"Koran..koran...koran...!!!".

Kuning :
Harapan mulai untuk pergi
kaki melangkah untuk akhir berlagak
suara tetap untuk bersuara hati.

Hijau :
Kini kembali pada berhala pengatur
melihat segala harus bermacam kehidupan.

Harapan terus menunggu perintah berhala pengatur
untuk sedikit kehidupan berlanjut.



Melebur pemberian dingin malam
membawa setiap rintik air
aku menyatu jauh bersama malam
terbang melayang menuju tanah pesiar.

Aku selalu lemah dingin
kelakian tergoda perayu kenikmatan
dosa penghibur perbuatan
rintihan kucoba untuk melawan.

Habis segala mantra terucap
hilang akal pangkuan khyalan
aku berubah lesu mengecup
aroma bini jauh seberang penantian.

Belaian meraba sensitif tubuh
membuka aura kenikmatan sesaat
tangisan bertahan jenuh
coba menjauh kelakuan sesat.

Perang batin ini di rasa
kesunyian malam aku tersiksa
keyakinan agama coba bertahan
Akhir aku serahkan ini Pada Nya.

Pekanbaru 19072011

Sahabat Malamku Di Jalanan

Selasa, 07 Juni 2011 0 komentar

Tertawa bicrara bersama di jalanan melepas lelah yang di rasa,
di bawah germelap lampu ibu kota jalanan.
Kita bergandeng tangan membawa gitar tua dari pemberian
bernyanyi untuk memcari sesuap nasi di warung malam.
Itu selalu menjadi kubertahan bersamamu di saat itu.
Senyummu.
Tawamu.
Suaramu.
Semangat hidupku di jalanan.
Malam itu di rumah tua kos kita sewa bersama,
di saat duduk di bangku tua reot
kau pernah bercerita tentang harapanmu.
Berat suaramu mulai mengatakananya.
"Aku bila mati nanti,...seandaiku di hidupkan kembali,
aku ingin menjadi jangkrik malam....Selalu bernyanyi di malam hari".
Hatiku terbakar saat kau mengatakan itu.
Aku jiwa merasa begitu merasa kehilanganmu.
Malam itu malam yang membuat ku ingin selalu bersamamu
sampai kau memejamkan mata.
Hari itu malam itu
kumerasa dunia ini runtuh menimpaku
saatku lihat dirimu terbaring berdarah di aspal jalanan
lemah semangatku saat kau kupeluk erat di jalanan itu
tapi suaramu mengejutkanku.
"Ini udah waktuku untuk pergi,jangan menangis saudaraku
jangan cengeng gitu saudaraku,
ini takdir kau dan aku untuk berpisah,berpisah untuk bersama selamanya
dimana kau dengar jangkrik bernyanyi itulah aku yang bernyanyi".
Itu yang masihku rasakan malam ini
sendiri di jalanan tempat kita mencari sesuap nasi.
Malam ini.
Jalan ini.
Kumelihat kau bernyanyi di ujung bus kota itu.
walauku tau itu bukan kau
Tapi.
Aku banga padamu,
sahabat malamku di jalanan

Senin, 07 Februari 2011 22:27

Translate

English French German Spain Russian Japanese Arabic Chinese Simplified

recent post

Total Pengunjung

Popular Posts

Followers

Blog Archive

DMCA.com Protection

Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates