Titian kata bernaung kucoba untuk memahami
segelintir suara selalu pahami diri
begitu sepi
begitu menanti.
Tersiar hati rembulan kenangan indah
bersama pemandu cerita menyentuh
meresap duka
membuka mata
Sekeliling mata senyum terbawa
terbawa pemberani berdakwa
melayang jiwa
melayang tawa.
Sepucuk surat titian kata
untuk rantau kini terbaca.
Uda...!!!.
Kata ibu bahasa asli
menyentuh gendang telinga rindu diri
jauh menyuruh ingin pulang asal negeri.
Adiak...!!!
Kata ibu bahasa asli
keluar berat menyadari
sabar balas akan pulang nanti.
Menari umpama untuk rindu
rantau jauh hati terasa menunggu
menunggu hari izin bersama kekasih dirindu.
Mata jauh memandang
menembus atap rumah tua
gelap sunyi.
Sayup terdengar suara telinga
membawa sinyal lapor otak
memahami berkerja pikiran mengenali
tangisan itu otak berbicara.
Mata mencoba membuka lihat
tangisan siapa itu ?.
Terlalu silau terasa tak nampak
anak kecil itu mulai fokus mata
Anak siapa ?.Itu aku.
Kamar apa ini ?.Berserakan
kaca pecah bertaburan
tempat tidur porak poranda
lemari bekas hantaman hancur
tangan darah terasa pekat mata terlihat
mata sekeliling tergambar ruang bertuba.
Darah luka anak.
Darah air matak Anak.
Tubuh lebam anak.
Sisa siksa baru,membekas
Itukah Aku ?.Iya.
Pedih mata sakit tak tahan pandang
gelap mulai gelap takterlihat
kembali semua keruangan
ruangan lain tempat kini
terjaga basah peluh badan.
Mimpi atau itu aku dulu?.Aku gelisah.
Gelisah pilu untuk mimpi nyata aku dulu.
Pekanbaru 19072011
menempel jauh kulit pejalan siang
tak terhiraukan sudah
biasa bagi anak tak tenang.
Koran tangan peluh untuk makan
berdiri tegar samping berhala pengatur.
Merah :
Harapan membuka untuk hidup
mendekat kaca pembawa pembeli
berlagak bersuara
"Koran..koran...koran...!!!".
Kuning :
Harapan mulai untuk pergi
kaki melangkah untuk akhir berlagak
suara tetap untuk bersuara hati.
Hijau :
Kini kembali pada berhala pengatur
melihat segala harus bermacam kehidupan.
Harapan terus menunggu perintah berhala pengatur
untuk sedikit kehidupan berlanjut.
Melebur pemberian dingin malam
membawa setiap rintik air
aku menyatu jauh bersama malam
terbang melayang menuju tanah pesiar.
Aku selalu lemah dingin
kelakian tergoda perayu kenikmatan
dosa penghibur perbuatan
rintihan kucoba untuk melawan.
Habis segala mantra terucap
hilang akal pangkuan khyalan
aku berubah lesu mengecup
aroma bini jauh seberang penantian.
Belaian meraba sensitif tubuh
membuka aura kenikmatan sesaat
tangisan bertahan jenuh
coba menjauh kelakuan sesat.
Perang batin ini di rasa
kesunyian malam aku tersiksa
keyakinan agama coba bertahan
Akhir aku serahkan ini Pada Nya.
Pekanbaru 19072011
Tertawa bicrara bersama di jalanan melepas lelah yang di rasa,
di bawah germelap lampu ibu kota jalanan.
Kita bergandeng tangan membawa gitar tua dari pemberian
bernyanyi untuk memcari sesuap nasi di warung malam.
Itu selalu menjadi kubertahan bersamamu di saat itu.
Senyummu.
Tawamu.
Suaramu.
Semangat hidupku di jalanan.
Malam itu di rumah tua kos kita sewa bersama,
di saat duduk di bangku tua reot
kau pernah bercerita tentang harapanmu.
Berat suaramu mulai mengatakananya.
"Aku bila mati nanti,...seandaiku di hidupkan kembali,
aku ingin menjadi jangkrik malam....Selalu bernyanyi di malam hari".
Hatiku terbakar saat kau mengatakan itu.
Aku jiwa merasa begitu merasa kehilanganmu.
Malam itu malam yang membuat ku ingin selalu bersamamu
sampai kau memejamkan mata.
Hari itu malam itu
kumerasa dunia ini runtuh menimpaku
saatku lihat dirimu terbaring berdarah di aspal jalanan
lemah semangatku saat kau kupeluk erat di jalanan itu
tapi suaramu mengejutkanku.
"Ini udah waktuku untuk pergi,jangan menangis saudaraku
jangan cengeng gitu saudaraku,
ini takdir kau dan aku untuk berpisah,berpisah untuk bersama selamanya
dimana kau dengar jangkrik bernyanyi itulah aku yang bernyanyi".
Itu yang masihku rasakan malam ini
sendiri di jalanan tempat kita mencari sesuap nasi.
Malam ini.
Jalan ini.
Kumelihat kau bernyanyi di ujung bus kota itu.
walauku tau itu bukan kau
Tapi.
Aku banga padamu,
sahabat malamku di jalanan
Senin, 07 Februari 2011 22:27




