Derap langkah tua pengembara
melewati bara sentetis surga
ayun terus menggetarkan luka
kacakaca darah pewaris saka
Meter jejak keringat tertua
hempas mengempas senyuman suka
menahan alur kepicikan raja duka
Tangan memikul kesenjangan dahaga
makin lebar tangisan jalan tepian melata
semuanya meninggi pada kehidupan harga
Naik tak turun jeritan bawah kolong berkuasa
sudut ke sudut menghiasi serpihan dosa
begitu deras arus kematian kepercayan kepala
Kata rakyat jadi rayuan surga
Rakyat jelata hidup di neraka
begitu terasa langkah pengembara tua
Tampilkan postingan dengan label puisi penulis awam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi penulis awam. Tampilkan semua postingan
* Disini Tanpamu *
Benalu putih bermain
akar pandan
menggoyang tatanan
pendakwah santan
terus menguap
pelapiasan berteman
aku membongkar dingin
permainan
Di sana pelangi bermain
warna
merangkai kalam surga
dunia
aku lupa dosa menganga
ruang
sekalipun nafas
terbuang hina
Kapan dua datang ?
Satu pula menghadang
Di sini tanpamu bermain
rokok sebatang
asap menari penuh
birahi ruang
ingin menelan suara
kasih sayang
namun periuk tak berapi
dendang
Lekas datang !
Aku disini tanpamu
tetap satu
menunggu suara saksi
merdu
menyatukan tulang rusuk
percintaan
1642012 Pekanbaru PS 50
Tak peduli dibilang
gila
mereka lebih gila
Aku gila bukan
menganggu periuk nasi
gila hanya pada perut
kosong
Kucing itu anakku
di sana ku kuburkan
hiasan kepedulian
ya,aku gila
Tapi aku punya jiwa
yang ku titipkan pada
tangan-kuasa
Hujan badai itu bukan
halangan
hanya para penakut yang
sebunyi diruang kebodohan
jelas aku perempuan
berhati peduli
tak perlu sibuk hinaan
tak akan hilang
kegilaan
Tong…tong…tong…
mari makan
ini makanan untukmu
jangan takut mereka
kita sama berbagi suka
Ini aku
Datang bersama kegilaan
hati
Para kucing pasar
Aku ibu kalian
18042012 Pekanbaru.pasar 50
Hujan diluar bercumbu
melumat tiap inci tanah
dingin ikut bernyanyi
sendu
membuncah menusuk tubuh
Di bawah atap
anak bermain inai
melekat di kuku tangan
isab
kebahagian melumat
sepasang wajah hati
Ah...
Aku hanya menatap biru
Masih jauh merasa
detik waktu mendesah
dalam bilik kayu
berkecamuk bermacam
kata
Hujan masih diluar
tetap bepeluk rima
andaipun ikut bernyanyi
Siapa aku hujan ?
Siapa aku dingin ?
Siapa aku malam ?
apa aku pantas berinai
?
hanya
hujan,dingin,malam yang menjawab
05052012 Pekanbaru ps 50
Makan mengais sampah
orok belatung bermarwah
korban nafsu serakah
Cinta siapa ?
Anak siapa ?
Bertanya diri sebongkah
raga
Berbelit barokah,dosa
manis juga
Janji sama
Harapan sama
ujung belati juga
berkuasa
hilang arti purnama
kasta
Semua tak sama
Di pembuangan sampah
hasrat meraba
Mata merah berapi
segelas dosa indah
di teguk tak berati
sampah juga bersama
punah
Lihat tubuh teraba
orok merah bermain
murka
hari ini semua jelas
semua tak sama,walau
sama
1052012 Pekanbaru Ps 50
Makin jauh aku
memandang
makin nampak apa yang
tak tenang
angka-angka semakin
bermain
mempermainkan otak dan
pikiran
Aku semakin merasa
pesuruh angka-angka
segala angan
memperbudak pikiran
Aku coba menarik diri
untuk kepada siapa aku
Aku hanya pemeras
keringat
di bawah mata berapi
membara
sana sini dimandikan
debu-debu jalanan
menikmati daki bepesta
pora
bersama harapan akan
datang
Ibu ku bilang
angka-angka itu lemah
tapi
untuk kuat menahan diri
Ibu ku bilang
angka-angka itu kuat
tapi
untuk lemah menahan
diri
Semakin jauh aku
memandang
semakin terasa aku
ingin angka-angka
semakin pula aku sadar
dengan kata
" Kita memang
butuh angka-angka
tapi
jangan sampai kita
diatur angka-angka "
24042012 Pekanbaru
Dik
inilah hidup
berbagai rasa datang
kadang permainan rasa
memabukan
kadang luka dan
rintihan
Dik
coba sapa hidup
dia akan menyapa
memberikan hitam dan
putih
pilihlah mana baik
untuk menyelimuti diri
Dik
ini saran
jangan pernah menangisi
hidup
dia akan membenci
dan
tak akan peduli air
mata
percuma air mata itu
Dik
nikmati segala hidangan
hidup
hati-hati pada hidangan
beracun
carilah diri hidup
sebenarnya
Jangan lupa
kita hidup untuk hidup
Pekanbaru.942012
Bergantungan
bayang-bayang peraduan
menyentuh kata purnama
sekilas desakan
menyesak ara
ingin segala pujian
datak kepangkuan
tapi hanya harap pada
kekasih kelana
Aku kadang terlena
suasana kelam
Adakah kawan dalam
kelam ?
Jauh diluar semua
berangan
jalanan sibuk mengatur
pandangan
kesana kemari mencari
pangan
untuk kelanjutan hidup
dewa nyawa
Aku di bilik panas
peluh
hanya berbaring rintang
Sekilas dahaga perempuan
membuncah
menggoda kesendirian
puing kesadaran
Tak peduli itu
Aku tetap larut dalam
kata majas
mengikuti alur hati
seorang pengembara
1942012ps50
Malam menyambut
kelam,bulan mengintip dari balik asap para burung hantu
Malam Jum’at itu.
Menyembah langit tanah
alam nenek moyang
Memutamutar elang
malam ber-enam atau lebih
Berbaju gadang sarawa
gadang
Hep…ta…ti…hep
Tukang gore
membangkitkan gerak
Sarawa mengalun
tepukan hentakan awal
Talempong memecah
malam gelanggang perang
Pupuik menusuk dingin
si mata hantu
Berujung sembah datang
silek gelombang
Sujud pada Tuhan,ninik
mamak andai toladan penuh sembah
Anggun nan Tongga.
Awal langkah alam
bercerita perjalanan
Gerak makin menawan
berjubah lengkap pendekar
Sorak sorai bertautan
dan dendam pembunuh
Sekian malam tanah
Darek
Luar biasa sorak sorai
tepukan mengema perjalanan
Tak ingin hilang
Minangkabau
Hep…ti…ta..hep
Tukang gore membuka
langkah cerita mulai didendangkan
Malam makin malam
Anggun nan tongga
terus bertualang
Sekian malam akhir
cerita nanti di lanjutkan…
Pekanbaru;14Pasar03Lima2012Puluh
Mahluk ketakutan itu
Bertengger disetiap
ruang otak
Menyebarkan keraguan
dungu
Kemana keberanian ?
Apa bersembunyi
disetiap kerampang perempuan?
Ketakutan menyimpan
sarisari keberanian
Kalau itu dikuasai
penaripenari jiwa
Keberanian mulai
menghujam
Diri melawan
ketakutan.Mencoba
Dikuasai ketakutan.Kematian
hina
Jam itu bersuara
tengah malam buta
Serinai malaikat dan
setan memburu ketakutan
Disetiap lorong
pikiran
Kadang tenang
Kadang bergelombang
badai
Tak peduli itu lelaki
Tak peduli itu
perempuan
Binatang pun tak
peduli
Ketakutan menyerang
Jalan masih diatas
takdir
Tiap simpang ada
petunjuk
Tiap kesesatan ada
pelajaran
Dibalik
ketakutan,disana perempuan berani menyulam sutra
Dibalik
ketakutan,disana lelaki membentuk
keyakinan.
Pekanbaru;12Pasar03LimaPuluh


